Susah Hamil Anak Kedua, ke-3, ke-4? Penyebab dan Solusinya.

Susah Hamil Anak Kedua, ke-3, ke-4? Penyebab dan Solusinya.Sejumlah pasangan suami istri sering mengeluh ketika merencanakan kehamilan anak kedua yang terasa lebih sulit dibandingkan saat hamil anak pertama. Jika sebelumnya langsung berhasil, sekarang terasa sangat sulit. Padahal sudah menghentikan KB, sudah check-up ke dokter, minum pil hormon, dan berbagai cara lainnya.

Lalu apakah benar, untuk mendapatkan anak kedua cenderung lebih sulit dibanding mendapatkan anak pertama? Mungkin akan berbeda bagi istri karena situasinya yang juga berbeda. Sebelumnya pasangan memiliki kebebasan berhubungan intim kapan saja, serta bebas dari tekanan. Sementara sekarang harus membagi waktu dan perhatian untuk sang buah hati, berbagai masalah pun mulai muncul karena pengalaman baru kelahiran anak pertama. Hal-hal baru inilah yang kadang memicu emosi kedua pasangan khususnya bagi istri.

Ketika anak jatuh sakit atau sering menangis misalnya, kontan membuat sang ibu khawatir. Lalu muncullah perasaan sedih, marah, jengkel, yang campur aduk sehingga menyebabkan ketidakstabilan emosi. Tidak stabilnya kondisi emosional sangat menentukan tingkat kesuburan wanita, dikarenakan produksi hormon yang juga tidak stabil.

Gangguan Hormonal

Mencari tahu produksi hormon yang tidak stabil pada wanita dapat dilihat melalui siklus menstruasi. Bila siklus selalu berubah, ini pertanda adanya gangguan pada kestabilan hormon.  Terganggunya kondisi emosional akan menimbulkan impuls listrik di otak yang tersambung ke pusat hormonal. Dampaknya, hormon yang dihasilkan juga terganggu. Padahal, kematangan sel telur sangat ditentukan oleh tingkat kestabilan pengeluaran hormonal. Jika sel telur tidak matang, maka tentu tidak dapat dibuahi oleh sel sperma sehingga kehamilan seperti yang diharapkan belum terwujud.

Meskipun kondisi emosional yang tidak stabil ini terjadi hanya sehari dalam sebulan, tetap saja bisa mempengaruhi kegagalan kehamilan. Pematangan sel telur berlangsung secara bertahap dalam satu bulan dan didukung oleh pengeluaran hormon setiap hari. Jadi, pengeluaran hormon harus selalu stabil hari demi hari. Bila dalam sehari saja terjadi ketidakstabilan hormon maka akan mengacaukan proses pematangan sel telur.

Sementara pada pria, proses pembentukan sperma mereka tidak dipengaruhi oleh kondisi emosionalnya. Walaupun kondisi emosionalnya sedang jelek, produksi sperma mereka tetap berlangsung dan bisa mematangkan diri untuk membuahi sel telur.

Hindari Stres

Sebenarnya untuk mengatasi masalah ini sangat mudah. Pasangan suami istri, khususnya pihak istri harus berusaha mengatasi kondisi emosionalnya. Dengan demikian, bisa lebih stabil, stres bisa dihindari, dan kematangan sel telur bisa diperoleh. Seperti yang disebutkan di atas, bahwa wanita yang seringkali mengalami gangguan siklus menstruasi, biasanya akan dipelajari lebih lanjut apa penyebabnya, apakah ada gangguan pikiran atau tidak. Entah karena anak sakit-sakitan, suami kena PHK, tinggal dengan mertua, atau hal lain yang memungkinkan siklus menstruasinya tidak teratur. Penelusuran seperti ini dilakukan untuk mengetahui penyebab utama munculnya gangguan emosional tersebut.

Harus diakui, mengontrol kondisi emosional terlebih jika dirundung segudang masalah memang tidak mudah. Masalah seperti sang buah hati yang terus menerus sakit, sering rewel, sulit makan, atau hal lain yang bisa memicu kesedihan dan perasaan tertekan pada istri.

Untuk meringankan, dokter biasanya akan memberikan obat-obatan penambah hormon. Namun tetap diingat, diperlukan usaha dari si ibu untuk mengatasi emosinya yang tidak stabil tersebut terlebih dahulu.

Selain itu, kesehatan si ibu juga harus baik. Sebab, masalah kesulitan memiliki anak kedua juga sering disebabkan gangguan seperti infeksi di tempat jalannya sperma. Mulai dari, vagina, rahim, maupun saluran sel telur. Infeksi di bagian-bagian tersebut dapat terjadi kapan saja. Baik sesudah ataupun sebelum kehamilan anak pertama, dan seterusnya.

Infeksi ini bisa saja terjadi akibat perlukaan saat persalinan, namun kemungkinannya sangat kecil, sekalipun istri melahirkan di dukun beranak. Justru yang lebih mungkin untuk mengalami infeksi adalah bayinya, bukan ibu yang melahirkan.

Penyebab Infeksi pada organ reproduksi wanita biasanya disebabkan karena kurang memperhatikan kebersihan, terutama pada daerah vagina. Mungkin perhatian kebersihan alat kelamin setelah melahirkan mulai tersita oleh kehadiran sang buah hati. Ketika area vagina  tidak bersih, dari situ bisa saja infeksi terjadi, merembet ke atasnya, ke mulut rahim, sehingga terjadi servisitis (infeksi pada rahim), merembet ke rahim, kemudian menjalar ke saluran telur. Baik saluran kiri maupun kanan. Ini disebut adnexitis (infeksi pada saluran telur).

Ditiup & Dioperasi

Pada awal terjadinya infeksi, terdapat kuman dan juga sel darah putih. Sel darah putih ini berkumpul untuk melawan kuman penyebab infeksi, membasmi dan mempertahankan tubuh dari mahluk asing yang datang. Sperma pun dianggap sebagai mahluk asing sehingga di dibasmi dan dilawan. Sehingga mau tidak mau akan mengurangi sperma yang hendak membuahi sel telur.

Gejala infeksi ini tidak terasa di awal-awal munculnya sehingga yang bersangkutan tidak merasa jika alat reproduksinya tersebut terinfeksi. Kalaupun terdeteksi, ibu seringkali tidak mengobatinya hingga tuntas. Akibatnya, terjadi komplikasi seperti perlengketan di alat reproduksi. Tentu saja ini akan mengganggu fungsi alat reproduksi itu sendiri. Perlengketan di saluran telur dapat mengganggu jalannya sperma yang akan membuahi sel telur.

Pembuahan mungkin saja terjadi, akan tetapi nantinya akan menghambat sel telur yang telah dibuahi berjalan menuju rahim untuk berkembang menjadi embrio. Hasil konsepi berjalan menuju rahim, harus melewati saluran tersebut. Sehingga terjadi kehamilan di laur kandungan.

Infeksi ini pun dapat menyebabkan perubahan pada organ reproduksi sehingga si ibu mengalami infertilitas sekunder, yakni tidak bisa hamil untuk yang kedua, ketiga, dan selanjutnya.

Sebagai solusinya, bila infeksi belum sampai menimbulkan komplikasi seperti perlengketan ringan di saluran telur, cukup dengan obat yang disemprotkan, istilah awamnya ditiup.

Caranya dengan memasukkan obat melalui vagina, menembus rahim hingga sampai ke saluran telur. Dengan cara ini diharapkan saluran telur bisa terbuka. Jika infeksi yang di alami sudah kronis dan menimbulkan komplikasi seperti perlengketan yang penyumbatannya sudah berat, perlu dilakukan pembedahan mikro untuk memperlebar saluran telur agar sperma maupun hasil konsepsi bisa melewatinya dengan mulus.

Begitu juga dengan dengan organ reproduksi lain, selama infeksinya masih ringan, cukup dengan obat. Apabila sudah berat seperti ada kelainan, perlu dilakukan tindakan lebih lanjut semisal operasi.

Menjaga Keasaman Vagina.

Vagina bukanlah tempat yang steril, ada berbagai jenis kuman yang terdapat di dalamnya. Diantaranya kuman baik dan juga kuman jahat, Kuman baik disebut basil doderline memiliki fungsi menjaga keseimbangan di dalam vagina. Doderline membuat vagina bersifat asam karena zat-zat yang dikeluarkannya. Zat asam ini biasanya tidak disukai oleh kuman yang jahat.

Jika keasaman vagina tetap terjaga, keseimbangan antara kuman baik dan jahat pun akan selaras sehingga infeksi dapat terhindarkan. Namun apabila kuman jahat dapat tambahan dari luar, misalnya berhubungan seksual dengan pasangan yang kelaminnya tidak sehat, maka populasi antara kuman jahat dan baik tidak seimbang lagi.Karena musuhnya menjadi lebih banyak, maka jumlah basil doderline kalah dan suasananya tidak asam lagi.

Mencuci vagina terlalu sering menggunakan pencuci khusus yang mengandung zat kimia pun dapat membunuh doderline. Seringkali, vagina dicuci dengan sembarang sabun yang bersifat basa. Asam ditimpa basa, maka akan jadi netral, menyebabkan doderline pun mati. Yang disayangkan, orang seringkali salah kaprah dengan mencuci vagina menggunakan sabun. Padahal mencuci vagina cukup dengan air bersih. Penggunaan pencuci vagina boleh hanya untuk sesekali.

Jarak Ideal Memiliki Anak Kedua.

Sebenarnya memberi jarak kelahiran antara anak pertama dan kedua tergantung dari keputusan setiap pasangan. Idealnya beri jarak 2 tahun ketika ingin hamil anak kedua. Pertimbangannya karena semua organ memakan waktu 2 tahun agar kembali ke kondisi normal. Dengan demikian diharapkan kehamilan di anak yang kedua tidak mengalami komplikasi karena alat reproduksi yang kurang normal.

Selain itu, agar bayi memperoleh asupan ASI yang cukup. Anak kira-kira mendapatkan ASI cukup sampai satu tahun. Nah, satu tahun berikutnya lagi untuk mempersiapkan kehamilan berikutnya. Kehamilan merupakan tanggung jawab yang sangat berat. Jadi sang ibu harus benar-benar siap untuk menjalaninya kembali.

Langkah yang dapat dilakukan diawali dengan pemeriksaan infertilitas dasar. Seperti pemeriksaan sperma serta roentgen saluran tuba (HSG). Setelah siklus menstruasi teratur dan pemeriksaan infertilitas dipastikan telah normal, lalu jalankan program hamil. Semoga berhasil!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *